Bagaimana hukum melakukan jamak salat selama Arafah, Muzdalifah, Mina ?
Jawab :
Berdasar hadist riwayat Jabir bin Abdullah, pelaksanaan salat Rasulullah selama ARMUZNA sebagai berikut :
Di Mina tanggal 8 Dzulhijjah, Rasulullah menggoshor salat tanpa jamak Di Arafah, Rasul melakukan jamak taqdim-gashar salat Dzuhur dan ashar, dengan 1 adzan dan 2 iqamat
Di Muzdalifah, Rasul melakukan Jamak ta’khir- gashar Maghrib dan isya’ Di Mina Rasul melakukan salat secara gashar tanpa jamak.
(Figh Haji Komprehensif Kementerian Agama RI, 2019, hlm. 11-67).
Dalam kajian fikih, soal hukum men-jamak salat dalam pelaksanaan ARMUZNA, para ulama” berbeda pendapat sebagai berikut :
a. Menjamak salat di Arafah dan Muzdalifah pada musim haji. Para fugaha telah sepakat, bahwa menjamak salat Zuhur dan Asar dengan jama’ takdim di Arafah hukumnya sunah. Begitu juga dengan jamak Maghrib dan Isya di Muzdalifah dengan jama’ ta’khir.
b. Menjamak salat selain dua tempat tersebut di atas (Arafat dan Muzdalifah). Dalam masalah ini, terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama :
1) Mazhab pertama
Mazhab Maliki, Syafi’i dan Hanbali membolehkan jamak antara Zuhur dan Asar, baik jama’ takdim (di waktu salat Zuhur) atau ta’khir (di waktu salat Asar). Demikian juga dengan jamak antara salat Maghrib dan Isya, baik takdim (di waktu Maghrib) atau ta’khir (di waktu Isya) (Abu Walid Ibnu Rusyd, Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Mugtasid, Jilid 1, him. 125)
2) Mazhab kedua
Mazhab Hanafi ini menyatakan, bahwa menjamak salat hukumnya tidak boleh, kecuali menjamaknya pada waktu wukuf di Arafah dengan jama’ takdim, dan di Muzdalifah dengan jama’ ta’khir. Selain di dua tempat ini, menjamak salat hukumnya tidak boleh (Alauddin Abu Bakar al-Kasani al-Hanafim, Badai” al- Shanai’ fi Tartibi al-Syarai‘. Jilid 1, him. 126)
(Lihat Figh Haji Komprehensif, Kementerian Agama RI 2019, hlm. 314-317)
Sumber : Konsultasi Manasik Haji dan Umrah, Kementerian Agama RI, Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah 1441 H / 2020 M