Materialisme Dalam Memandang Nikmat Allah
- account_circle admin
- calendar_month 20 menit yang lalu

Oleh : Dr. Mustafa Makhdum
Abu Darda’ ra berkata:
مَنْ لَمْ يَرَ لِلَّهِ عَلَيْهِ نِعْمَةً إِلَّا فِي مَطْعَمِهِ وَمَشْرَبِهِ فَقَدْ قَلَّ فِقْهُه وَحَضَرَ عَذَابُهُ
“Barang siapa yang tidak melihat nikmat Allah atas dirinya kecuali hanya pada makanan dan minumannya, maka sungguh sempit pemahamannya dan adzab telah dekat kepadanya.”
Di antara bentuk sempitnya pemahaman dan dangkalnya pandangan adalah ketika seorang hamba memandang nikmat Allah hanya berupa sesuatu yang berkaitan dengan makanan dan minuman saja. Ketika makanan atau minumannya berkurang, ia mengira bahwa dirinya sedang berada dalam ujian yang sangat berat. Padahal manusia sebenarnya tenggelam dalam berbagai nikmat Allah. Hanya saja, kelalaian dan kebiasaan terhadap nikmat-nikmat tersebut membuat kebanyakan manusia tidak mampu melihat selain nikmat-nikmat yang tampak secara lahiriah.
Orang yang membaca Surat Ar-Rahman akan mendapati bahwa firman Allah:
فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
“Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (wahai jin dan manusia)?” (QS. Ar-Rahman: 13)
diulang sebanyak 31 kali.
Surat tersebut membicarakan berbagai macam nikmat yang mencakup seluruh kehidupan seorang hamba, baik di dunia maupun di akhirat. Tidak ada satu pun nikmat Allah melainkan mengingatkan seorang hamba kepada Rabb-nya. Nikmat itu menyingkapkan kepadanya keindahan ciptaan Allah, keagungan kreativitas-Nya, serta kesempurnaan dan kebaikan ciptaan-Nya.
Sungguh, seandainya seorang hamba menghabiskan seluruh umurnya untuk melakukan berbagai amal saleh, ia tidak akan mampu menunaikan hak syukur atas satu saja dari sekian banyak nikmat Allah tersebut.
Nikmat dan karunia Allah tidak hanya berupa makanan, minuman, dan pakaian. Nikmat Allah jauh lebih luas daripada pemahaman yang sempit itu.
Segala sesuatu yang Allah alirkan pada hamba-hamba-Nya berupa kenikmatan, baik pada malam maupun siang hari, ketika tidur maupun terjaga, ketika menetap maupun dalam perjalanan, semuanya adalah bagian dari nikmat Allah.
Allah Ta’ala berfirman:
وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَا ۗاِنَّ اللّٰهَ لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
“Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl: 18)
Di antara nikmat tersebut adalah penjagaan Allah pada malam dan siang hari. Siapakah yang menjaga dan memelihara seorang hamba ketika ia lalai dari Rabb-nya?
Allah Ta’ala berfirman:
قُلْ مَنْ يَّكْلَؤُكُمْ بِالَّيْلِ وَالنَّهَارِ مِنَ الرَّحْمٰنِۗ بَلْ هُمْ عَنْ ذِكْرِ رَبِّهِمْ مُّعْرِضُوْنَ
“Katakanlah, “Siapakah yang akan menjaga kamu pada waktu malam dan siang dari (siksaan) Allah Yang Maha Pengasih?” Bahkan, mereka berpaling dari mengingat Tuhan mereka.” (QS. Al-Anbiya’: 42)
Siapa yang tidak mengikat nikmat-nikmat Allah dengan pujian dan rasa syukur kepada Sang Pencipta, Pemberi, Maha Menganugerahkan, dan Maha Melapangkan, maka nikmat-nikmat tersebut bisa terlepas darinya dan mungkin tidak akan kembali kepadanya untuk kedua kalinya, karena ia telah mengingkari nikmat tersebut.
Allah telah memberikan perumpamaan tentang sebuah negeri yang dianugerahi nikmat keamanan dan rezeki yang melimpah, tetapi penduduknya tidak mensyukuri nikmat-nikmat itu dan tidak mengakuinya sebagai karunia dari Allah. Maka Allah menimpakan kepada mereka adzab.
Allah Ta’ala berfirman:
وَضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ اٰمِنَةً مُّطْمَىِٕنَّةً يَّأْتِيْهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِّنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِاَنْعُمِ اللّٰهِ فَاَذَاقَهَا اللّٰهُ لِبَاسَ الْجُوْعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوْا يَصْنَعُوْنَ
“Allah telah membuat suatu perumpamaan sebuah negeri yang dahulu aman lagi tenteram yang rezekinya datang kepadanya berlimpah ruah dari setiap tempat, tetapi (penduduknya) mengingkari nikmat-nikmat Allah. Oleh karena itu, Allah menimpakan kepada mereka bencana kelaparan dan ketakutan karena apa yang selalu mereka perbuat.” (QS. An-Nahl: 112)
Maka janganlah mengukur nikmat Allah hanya dari apa yang masuk ke dalam perut saja. Nikmat Allah jauh lebih luas: kesehatan, keamanan, waktu, tidur, kemampuan bernapas, keluarga, kesempatan beribadah, perlindungan dari keburukan, dan bahkan berbagai musibah yang Allah palingkan dari kita tanpa pernah kita sadari.
Sering kali kita tidak menyadari betapa banyak nikmat yang kita miliki, karena kita terlalu sibuk menghitung apa yang belum kita dapatkan[]
☪️
Madrasatuna
Terjemah : Aunurrofiq Saleh
- Penulis: admin







